Biografi KH. Aceng Zakaria


KH. Aceng Zakaria lahir di Garut 11 Oktober 1948 dari sebuah keluarga sederhana di kampung Sukarasa desa Citangtu Babakanloa Wanaraja. Ayahnya seorang ulama terkemuka di desanya. Oleh karena itu KH. Aceng Zakaria hidup berkembang di dalam lingkungan religius yang berpendidikan.
Biografi ulama persatuan Islam KH. Aceng Zakaria dimulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat (SD) Babakan Loa Garut hingga tahun 1967. Disamping itu, ia biasa mengaji kitab-kitab kuning, seperti Safinah, Tijan Jurumiyah dan Imriti yang diadakan di rumah saudara kakaknya yang juga seorang ulama. Karena ketekunanya menelaah kitab kuning ia telah menamatkan Safinah, Tijan Jurumiyah dan Imriti ketika lulus SR.
Karir KH. A. Zakaria diawali menyelesaikan pendidikannya di SR, kedua orang tuanya tidak menyuruh KH. Aceng Zakaria untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah formal. Namun kakanya, Asep Barhoya yang pernah tamat SMP meminta dia untuk melanjutkan sekolah ke SMP.
Akhirnya kisah pada biodata Aceng Zakariya diceritakan memilih belajar agama di rumahnya sendiri sekaligus meringankan beban orangtuanya dengan membantu berladang di sawah dan kebun.
Di samping itu juga beliau aktif berorganisasi di PII (Pelajar Islam Indonesia) Wanaraja dan beberapa kali kerap disuruh untuk berceramah di depan masyarakat.
Keahliannya dalam membaca Arab gundul, memutuskan dia untuk mengajar kitab-kitab kuning kepada para santri di lingkungan rumahnya. Hingga pada akhirnya sekitar tahun 1969, Ustadz yang dulu suka memperbaiki jam ini, memutuskan untuk berangkat ke Bandung dan mencoba sekolah di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Pajagalan.
Karena punya basic dalam membaca kitab, maka akhirnya K. H. Aceng Zakaria ditempatkan langsung di kelas satu muallimin (Aliyyah). Perkenalan dengan Persatuan Islam (Persis) sendiri telah dimulai sejak lama, khususnya melalui saudara kakanya dan karena factor lingkungan yang telah lama mengenal Persatuan Islam (Persis).
Melahirkan Buku
Di sela-sela kesibukannya belajar, KH. Aceng Zakaria yang tanpa lulusan perguruan tinggi atau universitas ternama ini mulai mencoba menulis rangkuman beberapa pelajaran, seperti Nahwiyyah dan Musthalah Hadits. Kebiasaannya ini berlangsung hingga dia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1970.
Karena merasa masih kurang ilmunya, KH Aceng Zakaria belajar langsung dengan KH. E Abdurrahman setiap malam kamis di rumahnya. Pelajaran yang disampaikan sangat beragam, namun yang paling diutamakan adalah tafsir Ibn Kasir.
Setelah melihat bakat Aceng Zakaria, KH. E Abdurrahman pun tertarik untuk merekrutnya menjadi ustadz di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Pajagalan. Tawaran ini pun langsung diambil olehnya.
Sesekali ia menyempatkan pulang ke Garut. Keluasan ilmunya yang telah lama ia dapatkan dari K.H. E. Abdurrahman dan dari kitab-kitab yang di baca, membuat dirinya diundang dalam acara diskusi yang sering diadakan oleh Pesantren Guntur Garut.
Bahkan sekitar tahun 1973, KH. Aceng Zakaria telah mulai berdiskusi masalah fiqh dengan beberapa ulama Garut seperti, Ajengan Karhi, Ajengan Ade, Ajengan Sulaiman dari Muhammadiyah dan beberapa ulama lainnya. Masalah yang diperdebatkan seputar membaca alfatihah di belakang imam, masalah qunut dan beberapa masalah fiqh kontroversial lainnya yang diselenggarakan sebulan sekali.
Hasil dari ketekunannya dalam mempelajari kitab-kitab Ulama terdahulu dan masa kini membawa pemikiran beliau menjadi kritis dan cermat dalam menghadapi setiap perdebatan. Dari acara inilah namanya mulai melambung dan menjadi bahan pembicaraan para ulama Garut.
Sekitar awal tahun 1975, KH. Aceng Zakaria tanpa gelar akademik memutuskan untuk pindah ke Garut atas permintaan dari Ibu Aminah Dahlan, salah seorang pendiri pesantren Persatuan Islam pertama di Garut. melihat kondisi umat Islam di Garut yang masih terbelenggu khurafat, tkhayyul dan kebid’ahan membuat dirinya rajin melakukan dakwah ke berbagai daerah di Garut.
Disamping ceramah diatas mimbar dia juga menyampaikan ceramah di salah satu station radio di Garut. Sesibuk apapun KH. Aceng Zakaria, Namun dedikasinya dalam mengajarkan ilmu Islam, khususnya Fiqh, tafsir, ilmu Bahasa Arab dan hadits tidak pernah dia tinggalkan. Ketika pertama kali menginjak Garut pun ia langsung mengajar di Pesantren Persatuan Islam Bentar Garut.
Beberapa ustadz di Garut meminta Aceng zakaria untuk mengajarkan ilmunya kepada mereka. Karena permintaan terus bertambah banyak, maka dia pun mengadakan pembinaan kepada para pengajar dan juru dakwah setiap malam jumat.
Pelajaran yang disampaikan seputar nahwiyyah, Fiqh dan tafsir. Khususnya bulan Ramadhan, para pengajar dan juru dakwah digembleng sebulan penuh dengan menyelesaikan pelajaran nahwiyyahyang dia susun ketika pertama kali sekolah di Pajagalan Bandung. Makalah-makalah dari penataran ini dia kumpulkan dan kemudian menjadi beberapa buku yang kini bereder hingga ke berbagai daerah di Indonesia seperti Irianjaya dan Aceh.
Salah satu karyanya yang monumental adalah Hidayah Fi Masail Fiqhiyyah Mutaa’ridhah. Buku ini dirampungkan sebanyak tiga jilid pada bulan Ramadhan 1408 H serta mendapat apresiasi dari Dr. Ahmad Amr Hasyim salah seorang dosen Hadits di Universitas al Azhar Kairo Mesir yang memberikan kata sambutan dalam pembukaannya.
Beberapa karya KH. ustadz Aceng Zakaria diantaranya :
Buku Aqidah
Ilmu tauhid jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Pokok-pokok Ilmu Tauhid
Syahadat Bai`at dan Jamaah Islamiyyah
Buku Fiqh
Hidayah Fi Masail Fiqhiyyah Mutaa’ridhah
Haramkah Isbal dan Wajibkah Janggut
Do`a – Do`a Shalat, Versi Indonesia dan Sunda
Do`a – Do`a Sehari-hari
Do’a Haji dan Umrah
Hadyu Rosul
Tarbiyah An-Nisa (Bahasa Arab)
Tarbiyah Nisa (Bahasa Indonesia)
Buku Bahasa
Al-Muyasar fi Ilmu Nahwi Jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Al-Kafi (buku Tashrif) Jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Tashrif 24 Jam
Nahwu terjemah
Kamus Tiga Bahasa (Indonesia – Arab – Inggris )
Ilmu Mantiq (Bahasa Arab)
Jadul Muta`alim (Bahasa Arab)
Adi`yyah, (Bahasa Arab)
Bidang tafsir
Al-Bayan fi Ulumul Qu`ran (Bahasa Arab)
Ilmu tajwid (Bahasa Arab)
Tafsir Al Fatihah (bahasa Indonesia)
Buku Hadits
Ilmu Musthalah hadits (Bahasa Arab)
Etika Hidup Seorang Muslim
Kitabul Adab, Jilid I dan II, (Bahasa Arab)

Selengkapnya

KH. Aceng Zakaria Ketua Umum PP. Persis Periode 2015 hingga 2020

Ketua umum Pimpinan Pusat Organisasi Masyarakat Persatuan Islam atau Persis periode masa jihad 2015-2020 saat sekarang ini adalah KH Aceng Zakaria. Beliau adalah seorang ulama pesantren yang diberi kepercayaan memimpin PP. Persis sampai muktamar di tahun 2020 yang akan datang.

Biografi KH. Aceng Zakaria terlihat dari kegiatan rutin yang biasa dilakukannya setiap hari, yaitu seorang pengajar di Pondok Pesantren Persis No.99 Rancabango dan mengisi pengajian atau seminar di berbagai tempat baik itu majlis ta'lim maupun di kampus perguruan tinggi. Selain itu segudang karya yang sampai sekarang menjadi acuan di beberapa sekolah tinggi dalam negeri maupun luar negeri.

Riwayat hidup KH. Aceng Zakari berasal dari kota Garut yang semenjak kecil gigih belajar dan banyak menghabiskan waktu mengaji dari beberapa guru dan kiai. Hingga akhirnya sampai di Pajagalan Bandung bertemu dengan tokoh-tokoh Persatuan Islam.

Profil selengkapnya terkait biodata KH Aceng Zakaria dapat disimak pada uraian berikut ini :

KH. Aceng Zakaria lahir di Garut 11 Oktober 1948 dari sebuah keluarga sederhana di kampung Sukarasa desa Citangtu Babakanloa Wanaraja. Ayahnya seorang ulama terkemuka di desanya. Oleh karena itu KH. Aceng Zakaria hidup berkembang di dalam lingkungan religius yang berpendidikan.

KH. Aceng Zakaria memulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat (SD) Babakan Loa Garut hingga tahun 1967. Disamping itu, ia biasa mengaji kitab-kitab kuning, seperti Safinah, Tijan Jurumiyah dan Imriti yang diadakan di rumah saudara kakaknya yang juga seorang ulama. Karena ketekunanya menelaah kitab kuning ia telah menamatkan Safinah, Tijan Jurumiyah dan Imriti ketika lulus SR.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di SR, kedua orang tuanya tidak menyuruh KH. Aceng Zakaria untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah formal. Namun kakanya, Asep Barhoya yang pernah tamat SMP meminta dia untuk melanjutkan sekolah ke SMP.

Akhirnya ia pun memilih belajar agama di rumahnya sendiri sekaligus meringankan beban orangtuanya dengan membantu berladang di sawah dan kebun. Di samping itu juga dia aktif berorganisasi di PII (Pelajar Islam Indonesia) Wanaraja dan beberapa kali kerap disuruh untuk berceramah di depan masyarakat.

Keahliannya dalam membaca Arab gundul, memutuskan dia untuk mengajar kitab-kitab kuning kepada para santri di lingkungan rumahnya. Hingga pada akhirnya sekitar tahun 1969, Ustadz yang dulu suka memperbaiki jam ini, memutuskan untuk berangkat ke Bandung dan mencoba sekolah di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Pajagalan.

Karena ia ahli dalam membaca kitab, maka akhirnya ditempatkan langsung di kelas satu muallimin (Aliyyah). Perkenalan dengan Persatuan Islam (Persis) sendiri telah dimulai sejak lama, khususnya melalui saudara kakanya dan karena factor lingkungan yang telah lama mengenal Persatuan Islam (Persis).

Karya Buku Kh. Aceng Zakaria
Di sela-sela kesibukannya belajar, KH. Aceng Zakaria mulai mencoba menulis rangkuman beberapa pelajaran, seperti Nahwiyyah dan Musthalah Hadits. Kebiasaannya ini berlangsung hingga dia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1970.

Karena merasa masih kurang ilmunya, KH Aceng Zakaria belajar langsung dengan KH. E Abdurrahman setiap malam kamis di rumahnya. Pelajaran yang disampaikan sangat beragam, namun yang paling diutamakan adalah tafsir Ibn Kasir. Setelah melihat bakat Aceng Zakaria, KH. E Abdurrahman pun tertarik untuk merekrutnya menjadi ustadz di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Pajagalan. Tawaran ini pun langsung diambil olehnya.

Sesekali ia menyempatkan pulang ke Garut. Keluasan ilmunya yang telah lama ia dapatkan dari K.H. E. Abdurrahman dan dari kitab-kitab yang di baca, membuat dirinya diundang dalam acara diskusi yang sering diadakan oleh Pesantren Guntur Garut.

Bahkan sekitar tahun 1973, KH. Aceng Zakaria telah mulai berdiskusi masalah fiqh dengan beberapa ulama Garut seperti, Ajengan Karhi, Ajengan Ade, Ajengan Sulaiman dari Muhammadiyah dan beberapa ulama lainnya. Masalah yang diperdebatkan seputar membaca alfatihah di belakang imam, masalah qunut dan beberapa masalah fiqh kontroversial lainnya yang diselenggarakan sebulan sekali.

Hasil dari ketekunannya dalam mempelajari kitab-kitab Ulama terdahulu dan masa kini membawa pemikiran beliau menjadi kritis dan cermat dalam menghadapi setiap perdebatan. Dari acara inilah namanya mulai melambung dan menjadi bahan pembicaraan para ulama Garut.

Sekitar awal tahun 1975, KH. Aceng Zakaria memutuskan untuk pindah ke Garut atas permintaan dari Ibu Aminah Dahlan, salah seorang pendiri pesantren Persatuan Islam pertama di Garut. melihat kondisi umat Islam di Garut yang masih terbelenggu khurafat, tkhayyul dan kebid’ahan membuat dirinya rajin melakukan dakwah ke berbagai daerah di Garut.

Disamping ceramah di atas mimbar dia juga menyampaikan ceramah di salah satu station radio di Garut. Sesibuk apapun KH. Aceng Zakaria, Namun dedikasinya dalam mengajarkan ilmu Islam, khususnya Fiqh, tafsir, ilmu Bahasa Arab dan hadits tidak pernah dia tinggalkan. Ketika pertama kali menginjak Garut pun ia langsung mengajar di Pesantren Persatuan Islam Bentar Garut.

Beberapa ustadz di Garut meminta Aceng zakaria untuk mengajarkan ilmunya kepada mereka. Karena permintaan terus bertambah banyak, maka dia pun mengadakan pembinaan kepada para pengajar dan juru dakwah setiap malam jumat.

Pelajaran yang disampaikan seputar nahwiyyah, Fiqh dan tafsir. Khususnya bulan Ramadhan, para pengajar dan juru dakwah digembleng sebulan penuh dengan menyelesaikan pelajaran nahwiyyah yang dia susun ketika pertama kali sekolah di Pajagalan Bandung. Makalah-makalah dari penataran ini dia kumpulkan dan kemudian menjadi beberapa buku yang kini bereder hingga ke berbagai daerah di Indonesia seperti Irianjaya dan Aceh.

Salah satu karyanya yang monumental adalah Hidayah Fi Masail Fiqhiyyah Mutaa’ridhah. Buku ini dirampungkan sebanyak tiga jilid pada bulan Ramadhan 1408 H serta mendapat apresiasi dari Dr. Ahmad Amr Hasyim salah seorang dosen Hadits di Universitas al Azhar Kairo Mesir yang memberikan kata sambutan dalam pembukaannya.

Beberapa karya tulisan buku dan kitab KH. Aceng Zakaria diantaranya :
Buku Aqidah
Ilmu tauhid jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Pokok-pokok Ilmu Tauhid
Syahadat Bai`at dan Jamaah Islamiyyah

Buku Fiqh
Hidayah Fi Masail Fiqhiyyah Mutaa’ridhah
Haramkah Isbal dan Wajibkah Janggut
Do`a-Do`a Shalat, Versi Indonesia dan Sunda
Do`a-Do`a Sehari-hari
Do’a Haji dan Umrah
Hadyu Rosul
Tarbiyah An-Nisa (Bahasa Arab)
Tarbiyah Nisa (Bahasa Indonesia)

Buku Bahasa
Al-Muyasar fi Ilmu Nahwi Jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Al-Kafi (buku Tashrif) Jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Tashrif 24 Jam
Nahwu terjemah
Kamus Tiga Bahasa (Indonesia-Arab-Inggris )
Ilmu Mantiq (Bahasa Arab)
Jadul Muta`alim (Bahasa Arab)
Adi`yyah, (Bahasa Arab)

Bidang tafsir
Al-Bayan fi Ulumul Qu`ran (Bahasa Arab)
Ilmu tajwid (Bahasa Arab)
Tafsir Al Fatihah (bahasa Indonesia)

Buku Hadits
Ilmu Musthalah hadits (Bahasa Arab)
Etika Hidup Seorang Muslim
Kitabul Adab, Jilid I dan II, (Bahasa Arab)

Catatan lain mengenai KH. Aceng Zakaria:
KH. ACENG ZAKARIA: DARI DAERAH DENGAN SEGUDANG KARYA ILMIAH
Oleh: Yudi Wahyudin
Jauh dari hiruk-pikuk dunia industri, berada di bawah kaki Gunung Guntur tepatnya di Kudangsari Rancabango, terdapat sebuah pesantren yang tertata rapi, dipenuhi oleh para santri yang sedang khusyu belajar ilmu turâts di tengah struktur bangunan dan fasilitas teknologi yang memadai. Konsep pesantren modern yang dipadukan dengan kharismatika ulama ini kiranya merupakan manifestasi dari konsep fikir dan dzikir yang langsung dinakhodai oleh seorang Ulama Pondok Pesantren Persis 99 Rancabango ini sejak tahun 2000 yang lalu.

Adalah KH. Aceng Zakaria, seorang ulama kharismatik dengan produktivitas tinggi. Ia lahir di Sukarasa, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Selain lahir dari lingkungan pesantren, Ulama yang lahir pada 11 Oktober 1948 ini juga memiliki ayah seorang ajengan. “Keluarga besar kami berasal dari lingkungan pesantren. Bahkan banyak para ajengan yang lahir dari garis nasab kakek saya. Salah satu di antaranya adalah Ajengan Yusuf Taujiri, Mu’allim Anshor, dan lain sebagainya”, tuturnya.

Dengan ketekunan yang luar biasa, sejak sekolah dasar di Babakan Loa hingga tahun 1961, Wanaraja, Kabupaten Garut, ia sudah khatam mempelajari lebih dari lima kitab kuning, seperti Safinah, Tijan, Jurumiyyah, Sanusi, dan lain sebagainya. Dengan bekal ini, ia dipercayai untuk langsung mengajar di Madrasah Diniyah Sukarasa, tiga tahun setelah selesai sekolah dasar. “Murid pertama saya adalah seorang anak SMP, namanya Bapak Didi Al-Ikhlas, Garut”, kenangnya.

Meski nilai matematikanya sepuluh, ayahnya H. Ahmad Kurhi, tidak mendorongnya untuk meneruskan sekolah di lembaga formal (baca: SMP). “Selain bapak tidak menyuruh untuk sekolah, saya sendiri tidak tertarik untuk melanjutkan sekolah di lembaga formal”, tutur suami Hj. Euis Nurhayati ini. Otomatis aktvitas ia terkonsentrasi pada mengkaji turats dan belajar bertani. Setiap hari ia habiskan waktunya untuk belajar, baik di waktu pagi maupun sore. Pada masa-masa ini, ia sudah mulai menulis tema-tema ulum al-hadits, uhsul fiqih, nahwu dan sharaf. “Sambil belajar dan bertabligh, saya mulai belajar menuliskan apa yang selama ini saya pelajari. Bahkan manuskripnya masih ada tersimpan rapi”, kenang ayah yang memiliki 8 anak ini.

Belajar ke Bandung untuk Menerima Tantangan Dakwah
Dengan tantangan yang semakin kompleks ini, kemudian ia berfikir untuk menambah ilmu, kemampuan dan sekaligus pengalaman. Dengan dorongan Sang Kakek, ia pun memberanikan diri untuk menimba ilmu ke Bandung, tepatnya di Pesantren Persis No. 1-2 Pajagalan. Ia diterima di Tsanawiyyah Tingkat IV dan menyelesaikan studinya sampai akhir di Tingkat Mu’allimin pada 1969. Seusai nyantri, ia diminta untuk mengajar di Pondok Pesantren Persis Pajagalan oleh Pimpinan Pesantren, Al-Ustadz E. Abdurrahman. Selama empat tahun, ia kembali mengasah kemampuannya dengan belajar Ilmu Tafsir langsung dari tokoh besar Persatuan Islam saat itu.

Namun tetap saja, kacang tidak boleh lupa pada kulitnya, dengan permintaan Pimpinan Daerah Persatuan Islam Kabupaten Garut, H. Komarudin AS, ia harus kembali ke daerah asalnya. Pada awalnya Al-Ustadz Abdurrahman menolak permintaan dari Garut, karena takut ilmu yang ia miliki belum begitu diperlukan untuk di tingkat daerah. Namun karena melihat kesungguhan Ibu Aminah yang langsung datang ke Pajagalan, akhirnya Al-Ustadz Abdurrahman merelakannya.

Kontan saja, sepulangnya di Kabupaten Garut pada 1975, potensi yang dimiliki ia dioptimalkan. Ia kembali mengkaji turats dengan beberapa kader dari berbagai daerah di Pesantren Persis 19 Bentar. Selain ilmu nawhu, ia pun mengkaji berbagai persoalan fikih. Dari hasil kajiannya ini, lahirlah beberapa karya monumental, seperti Al-Muyassar Fi ‘Ilm Al-Nahw dan Al-Hidayah.

Jika Jam’iyyah Persatuan Islam Garut bertugas sebagai ‘divisi’ rekruitmen kader, maka Ust. Aceng Zakaria-lah yang menjadi pembina kadernya. Sehingga dalam menjalankan tugasnya ini, tidak jarang ia harus berdebat dengan berbagai kalangan tentang persoalan-persoalan fikih. Tercatat beberapa kali dilakukan perdebatan dengan ormas-ormas Islam yang ada di Kabupaten Garut saat itu, seperti Muhammadiyyah dan Nahdhatul ‘Ulama.

Saat ini, selain menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Persatuan Islam 99 Rancabango, ia menjadi salah satu anggota Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam, Pengurus dan Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) Kabupaten Garut.

Aktivitas dakwah yang ia geluti sangat luas. Selain aktif berdakwah di lingkungan Persatuan Islam, ia tercatat sebagai instruktur tetap Kursus Kesejahteraan Rohani (KKR) Pengajian Wanita Salman ITB Bandung, instruktur tetap pada Training Haji di berbagai instansi, penceramah rutin di Yayasan Madani Geologi ITB Bandung, pengisi rutin kuliah subuh di berbagai radio dan acara Cahaya Kalbu di TVRI Jabar-Banten, serta seabreg aktivitas di tempat lainnya.

Ia pun pernah diundang untuk mengisi Diskusi Keindonesiaan dengan tema Masa Depan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Cabang Zagaziq Mesir pada 21 September 2001, menjadi narasumber dalam acara seminar Pelatihan Metodologi Pemikiran Hukum Islam yang dilaksanakan oleh MUI Jawa Barat pada 31 Agustus 2001, dan menjadi pengisi pada acara Semiloka Nasional dengan tema Menyongsong Lahirnya KUHP Harapan Umat di Unisba.

Kunci Ilmu: Belajar, Mengajar, Diskusi, dan Menulis
Ketika ditanya mengenai kunci budaya ilmu, ia menjawab, “Kuncinya keseimbangan antara belajar, mengajar, diskusi, dan menulis”, tutur ulama yang sekarang menjabat sebagai Ketua Bidang Garapan Pendidikan Pimpinan Pusat Persatuan Islam ini.

Dari prinsip yang dilaksanakan secara konsisten ini, tidak aneh jika telah lahir lebih dari 50 judul. Buku pertama yang ia tulis adalah ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab) dengan sistem Jurumiyyah, kemudian mustholah al-hadits (definisi dan konsep dasar ilmu hadits), serta ushul fikih. Namun ketiga tulisan awal ini belum sempat diterbitkan.

Diantara buku yang ia tulis, magnum opusnya adalah Al-Muyassar Fi ‘Ilm Al-Nahwi. Buku tersebut sudah digunakan hampir di seluruh Indonesia, sudah mengalami tiga puluh kali cetak, dan lebih dari tiga juta eksemplar. “Bahkan buku ini digunakan juga sebagai bahan ajar Ilmu Nahwu praktis di Malaysia”, tutur Ketua STAI Persis Garut ini. Al-Muyassar ini merupakan rangkuman ilmu nahwu yang mengadaptasi metode praktis sehingga mudah difahami para pemula namun tidak enteng untuk pelajar tingkat lanjut. “Al-Muyassar adalah hasil ramuan dari berbagai macam metode ilmu nahwu, baik dari kitab klasik, bahan ajar di Pajagalan Bandung, atau hasil pengalaman privat di berbagai tempat”, jelasnya.

Selain Al-Muyassar, buku fenomenal lain karangan ia adalah Al-Hidayah. Buku ini berisi tentang pembahasan perbedaan-perbedaan pendapat dalam fikih beserta pemecahannya. Sebagaimana tradisi ulama penulis di lingkungan Persis, buku ini membahas persoalan hukum dengan jelas dan tidak bertele-tele. Bahkan saat ini, para pemerhati hukum pemula bisa membacanya karena sudah disediakan dalam bahasa Indonesia dalam 3 jilid.

Buku-buku lain yang telah diterbitkan diantaranya adalah: Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Sholat, Etika Hidup Seorang Muslim, Tarbiyyah Al-Nisâ, Materi Dakwah, Doa-doa Shalat, Mengungkap Makna Syahadat, Bai’at, dan Berjama’ah, Belajar Nahwu Praktis 40 Jam, Belajar Tashrif Sistem 20 Jam, Kamus Tiga Bahasa (Arab-Indonesia-Inggris), Al-Kâfi fi Al-Ilm Al-Sharfi, Kitab Al-Tauhid (3 jilid), Ilm Al-Mantiq, Al-Bayân Fi ‘Ulûm Al-Quran, Haramkah Isbal dan Wajibkah Jenggot?, Sakitku Ibadahku, Jabatanku Ibadahku, serta buku-buku lain yang diterbitkan secara terbatas di lingkungan pesantren.

Selain menulis buku, ia pun menjadi kolumnis di berbagai media baik media internal Persatuan Islam seperti Risalah atau media lainnya. Saat ini lebih dari 60 judul artikel yang telah diterbitkan. Tema-tema yang ditulis membahas hampir seluruh pokok kehidupan manusia, seperti aqidah, adab, masâil fikih (permasalahan fikih), dakwah, syiyâsah, kalam, dan iqthishadiyyah (ekonomi). Keluasan tema yang ditulisnya ini menggambarkan bahwa KH. Aceng Zakaria adalah seorang ulama kharismatik yang sangat produktif dengan wawasan ilmu yang sangat luas.

Istri: Hj. Euis Nurhayati
Anak:
1. Evi Nurhasanah
2. Yanti Nurlaeli, S.Pd
3. Luthfi Lukman Hakim, Lc.
4. Yudi Wildan Rosid, Lc.
5. Rifqi Aulia Rahman
6. Husni Muttakin
7. Zaki Shiddiqi
8. Rahmi Rasyidah

Pendidikan
1. SD (1961) di Babakan Loa Wanaraja Garut
2. Tsanawiyyah (1969) di Pesantren Persis No. 1-2 Pajagalan
3. Mu’allimin (1969) di Pesantren Persis No. 1-2 Pajagalan

Aktivitas
1. Pimpinan Pondok Pesantren Persis 99 Rancabango
2. Ketua Bidang Garapan Pendidikan Pimpinan Pusat Persatuan Islam
3. Anggota Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam
4. Ketua BKSPPI Kabupaten Garut
5. Penasihat ICMI Kabupaten Garut
6. Ketua STAI PERSIS GARUT.

Diambil dari berbagai sumber. Rangkaian biografi KH. Aceng Zakaria dengan segudang karya tanpa gelar akademis pendidikan ini mudah-mudahan menjadi ibroh untuk kita diambil teladan positif khususnya dalam mempelajari literatur dan pendalaman agama Islam.
Demikian riwayat KH. Aceng Zakaria tokoh ketua Umum Pimpinan Pusat Persis Periode 2015 hingga 2020. Semoga bermanfaat.

Selengkapnya

Daftar Jamaah Korban Tragedi Mina Dari Jamiyah Persatuan Islam Tahun 2015

Musibah yang terjadi saat lontar jumroh di Mina telah mengantarkan anggota Persatuan Islam menjadi syuhada. Sampai berita ini disampaikan belum ada kejelasan lengkap mengenai daftar peserta KBIH Persis yang telah wafat / meninggal dan atau yang hanya masuk Rumah Sakit.

Perlu kehati-hatian dalam menyampaian tentang daftar korban tragedi Mina musim haji tahun 2015 ini karena menyangkut nyawa seseorang. Info akurat tentunya akan disampaikan kemudian. Melalui sumber yang dapat dipercaya berikut daftar korban Tragedi Mina dari Ormas Persatuan Islam (Persis) Qornul Manajil.

Berdasarkan info resmi dari PP Persis : 
Lost Contact sementara ada 33 orang 
Diduga wafat 14 orang 
Terverifikasi pemerintah 16 orang

Korban Meningal dari Persatuan Islam Terverifikasi Pemerintah 16 orang :
1. Koko Koswara bn Oyong Suwarno
2. Moh. Yuhan Suprianto bn Supar S
3. Nani Unah Ratnani
4. Dadang Barmara bn Memed
5. Eti Kusmiati bt Idit
6. Rasno Asyidik bt Kardan
7. Dede Kurniasih bt Sulaeman Udje
8. Eni Sukarni bt Oyo
9. Debi Merlindayani bt H Cecep Isk
10. Endang Sutisna bn Atang
11. Erik Suryaman bn Aceng Kartika
12. Neneng Nurjuwita Wati bt Deni S
13. Tanti Puspitawati bt H Soeharsono
14. Rina Ocktarina bt Kemal Sirodz
15. Atik suryati bt E. Suarno
16. Wisma Widyana P bt Endang S

Jamaah KBIH Persis Diduga wafat 14 orang :
1. Supardi bn Harjodikromo
2. Aruk bn Emen
3. Rosidah bt Adjo
4. Sardjo Mulyana bn A. Sukarta
5. Nji Saadah bt Eno
6. Imas Masyitoh bt Suhandi
7. Nana Hendiana bn Idi
8. Atang Gumawang bn Dede Herlan
9. Ima Rismawati bt Endang Nandar
10. R. Maemunah bt Dasa Sasmita
11. Rumiyati bt Moh. Nyono
12. Neneng Rukmini bt H. Didin M
13. Dikdik M. Tasdik bn Udin Syamsu
14. Ira Kusmira bt Dede Herlan

Daftar nama Jamaah KBIH Persis korban tragedi mina yang masih dalam pencarian
Banjaran 4 jamaah:
1. Wawan sofwan effendi bn H Oyo
2. Iim Halimah bt Tama Rustama
3. Nining Irianingsih bt Harun Rasyid 4. Euis Komariah bt M Muharam

Ciwidey 1 jamaah:
1. Asep Ukanda Saputra bn H Yaya

Cimenyan 1 jamaah:
1. Aam Amalia bt Rustama

Baleendah 1 jamaah:
1. Suparman bn Iko Sarkosih.

Margaasih 4 jamaah:
1. Nandang Suryana bn Aman S
2. Entin Rostina bt Ikin Sodikin
3. Wahyudin bn Moh Doyo
4. N.A Kartinah bt Oto Kartawijaya

Kab. Subang 2 jamaah:
1. Ii Bahri Suparman bn Udi
2. R Nani Marlina bt Muhamad

Cilengkrang 1 jamaah:
1. Rohendi bn R Iskandar

Kab. Ciamis 5 Jamaah:
1. Ali Pudin S bn Sawirja
2. Drs Ending bn Rukanda
3. Karmah bt Padma
4. Yoyo Sutaryo bn Sukarmi
5. Djuhata Kuswandi S bn Djai

Arjasari 1 jamaah:
1. Rakal bn A Surya

Kab. Karawang 1 jamaah:
1. Yoyom Maryam bt Abdullah H

Kab.Sukabumi 3 jamaah:
1. Dahlan Djambek bt Ardiwidaya
2. Iis Masriah bt Kastoni
3. Kiagus Ferryzal Gani bn Syukur Gani Thamim

Kota Cimahi 9 jamaah:
1. Otong Bastaman bn S Sutisna Mih
2. Elly Sumili bt H.A Syafei
3. Nugroho M Sofwan Hadi bn Muh S
4. Rusdiyatiningsih bt M Ngadi
5. Ade Sutarna bn Atang D
6. Lilis Suryani bt Misbah
7. Tintin Mulyatin bn Ahmad S
8. Kusnadi bn Adiwijays
9. Tuti Kuswarti bt Daman

(Arief Hadilah/21.00 WIB tgl 27 sept)
Dari status FB Prof. Dadan Wildan Tanggal 27 September 2015
Bagi anda yang ingin mengetahui jelas kabar korban musibah di Mina dapat menghubungi Informasi Centre Jamaah Haji KBIH Persis kontak telepon (022) 4220704 ext. 12
Demikian info terkait Daftar Jamaah Korban Tragedi Mina Dari Jamiyah Persatuan Islam. Semoga Amal baik mereka diterima Alloh SWT.
Update terbaru Daftar Korban Tragedi Mina Yang Wafat rilis tgl 28 September 2015
DAFTAR TERBARU 41 JAMAAH HAJI YG WAFAT
KORBAN PERISTIWA MINA
yaitu:
1. Hamid Atwi Tarji Rofia, kloter SUB 48 nomor paspor B1467965;
2. Busyaiyah Syahrel Abdul Gafar, kloter BTH 14 nomor paspor A2708446;
3. Abdul Karim Sumarmi Idris, kloter SUB 48 nomor paspor B1023417;
4. Abdul Halim bin Ali Satina, kloter SUB 48 nomor paspor A4514455;
5. Eti Kusmiati Idit Supriadi, kloter JKS 61 nomor paspor B0932959;
6. Nani Unah Ratnani, kloter JKS 61 nomor paspor B0745299;
7. Mohammad Yuhan Suprianto, kloter JKS 61 nomor paspor A5737138;
8. Koko Koswara Oyong Suwaryo, kloter JKS 61 nomor paspor B0732931;
9. Adryansyah Idris Usman, kloter BTH 14 nomor paspor A3826040;
10. Dede Kurniasih Sulaeman, kloter JKS 61 nomor paspor B0745305;
11. Dadang Barmara Memed, kloter JKS 61 nomor paspor B0214365;
12. Yahman Mistan Meslan, kloter UPG 10 nomor paspor B0693120;
13. Ratna Abdul Gani Muhammad, kloter BDJ 1 nomor paspor A0912791;
14. Susimah Slamet Abdullah, kloter SOC 62 no paspor B.0874968
15. Nero Sahi Astro, (Kloter SUB 48/ No Paspor B1225386);
16. Rochmani Pawiroredjo Karsodikromo (SUB 61/B1045049);
17.Siti Muanifah Zainudin Sahlan (SUB 61/B1469941);
18. Rasno Asyidik Kardan (JKS61/B0745304);
19. Sri Prabandari Markani (SOC62/B0875692).
20. Nabaha Matsen Tarif, kloter BTH 14, nomor paspor B1306146;
21. Reni Arfiani Kaherdin, kloter BTH 14 nomor paspor B1311784
22. Ponpon Sadjaah Sastrapradja, kloter BTH 14 nomor paspor B0524212
23. Tanti Puspitawati Suharsono, kloter JKS 61 nomor paspor B092927
24. Rina Ocktarina Siroz Thoyib, kloter JKS 61 nomor paspor A3729946
25. Neneng Nurjuwitawati Deni Sahroni, kloter JKS 61 nomor paspor B0932973
26. Erik Suryaman Aceng Kartika, kloter JKS 61 nomor paspor B0933000
27. Eni Sukarni Oyo, kloterJKS 61 nomor paspor B0724661
28. Atik Suryati Suarno, kloter JKS 61 nomor paspor B0732946
29. Endang Sutiana Atang, kloter JKS 61 nomor paspor B0929866
30. Debi Merlindayani Hamdani, kloter JKS 61 nomor paspor B0476595
31. Wisma Widyana Puspitasari, kloter JKS 61 nomor paspor B1211713
32. Tasmudji Agung Seputro, kloter SUB 48 nomor paspor B1225358
33. Muzayyana Tahir Saruni, kloter SUB 48 nomor paspor B1467939
34. Nadjemiah Samad Madjida, kloter UPG 10 nomor paspor B0693478
Berikut nama 7 jenazah jemaah haji yang baru diidentifikasi:
35. Ruswati Karim Lawadang, kloter BPN 5 nomor paspor A8925437
36. Warnita Habib Basa, kloter BTH 4 nomor paspor B0822105
37. Rosidah Adjo Madusri, kloter JKS 61 nomor paspor B0745303
38. Sitti Lubabah Arsyad Ngolo, kloter UPG 10 nomor paspor B0693565
39. Yusriani Muhammad Qohar, kloter SUB 48 nomor paspor A6885226
40.. Ardani Moch Ali Siradj, kloter SOC 29 nomor paspor B0802886
41. Junaedi Sjahrudin Marjun, kloter SUB 36 nomor paspor B1021715

Selengkapnya

Doktrin Ajaran Syi'ah Dalam Pandangan Islam Sunni

Ajaran Syi'ah Dalam Pandangan Islam Sunni - Sekurang-kurangnya ada 17 doktrin ajaran Syi’ah yang tersembunyi dari kaum muslimin terutama dari golongan ahli sunni (Ahli Sunnah Wal Jammah). Diantara sekian ajaran yang paling menyamarkan keberadaan penganut ajaran Syi'ah adalah adanya Taqiyah yang artinya menyembunyikan bahwa penganutnya dapat menyembunyikan fahamnya tersebut.

Bukti dari doktrin rahasia ajaran Syi'ah ini terdapat dalam kitab-kitab suci yang dimilikinya seperti kitab Usuhulu Kaafi dan Rijalul Kashi. Ajaran ini juga bertangung-jawab dalam mengubah keaslian dan kesucian Qalamuallah Al Quran ul karim. 

Umat Islam seharusnya mengetahui diantara doktrin-doktrin ajaran Syi'ah yang terbukti dianggap sesat lagi menyesatkan :
  1. Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi hal. 138). Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin semacam ini Syi’ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum muslimin dan kesucian aqidahnya.
  2. Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifatbada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).
  3. Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).
  4. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal. 84).
  5. Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki(Ushulul Kaafi, hal.259, Al-Kulaini, cet. India).Jelas Doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah SWT QS: Al-A’raf 7: 128,“Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki”. Kepercayaan Syi’ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam Syi’ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.
  6. Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).
  7. Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).
  8. Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja’far berkata kepada temannya: “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku.” (Al-Istibshar III, hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan At-Thusi).
  9. Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).
  10. Menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).
  11. Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushulul Kaafi, hal. 193).
  12. Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi, hal. 158).
  13. Para imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam Syi’ah bersifat Ma’sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah (Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal. 165).
  14. Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushulul Kaafi, hal. 83).
  15. Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Saw (Ibid).
  16. Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad Baqir al-Majlisi).
  17. Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi, hal. 109)
Sebelum berdebat dan berbicara terkait ajaran Syi'ah minimal harus memahami terlebih dahulu tentang doktrin ajaran Syi’ah di atas, apakah boleh dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah Saw. dan dipegang teguh oleh para Sahabat serta kaum Muslimin yang hidup sejak zaman Tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak MENGKAFIRKAN aqidah Syi’ah ini, maka dia termasuk Kafir.

Semua kitab tersebut di atas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, upaya-upaya Syi’ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip, adalah dusta dan harus ditolak sepenuhnya !!!.

Selengkapnya

Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Fatihah

Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul wahhab rahimahullah berkata:
Perhatikanlah, semoga Allah memberimu petunjuk untuk mentaatinya, melindungi  dan senantiasa menjagamu di dunia dan akhirat. Sesungguhnya maksud doa dan ruhnya dan hati adalah memasrahkan hati pada Allah. Jika engkau berdoa tanpa hati maka laksana jasad yang tiada ruh di dalamnya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (al-Ma'un 4-5).
Maka lalai ditafsirkan “lalai” dengan kelalaian dari melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Yaitu membuang-buang waktu dan melupakan kewajibannya, lupa untuk menghadirkan hati. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim bahwasannya Rasulullah bersabda :
“Hal seperti itu adalah shalatnya orang munafik. Ia duduk menanti matahari hingga saat berada di antara dua tanduk setan ia berdiri lalu mematuk empat kali, ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali” (riwayat muslim).
Ditafsirkan “membuang waktu” berdasarkan firmannya: "menanti matahari” dan “melalaikan rukun-rukunnya” sebagaimana firmannya: "tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali”.
Jika engkau telah mengerti hal ini maka pahamilah satu cabang dari shalat ini yaitu membaca Al-Fatihah. Semoga Allah menjadikan doamu diterima dengan balasan berlipat ganda dan menjadi penghapus dosa-dosa.
Penjelasan terbaik bagimu dalam memahami al-Fatihah ini adalah hadits Abu Hurairah dalam Shahih Muslim, ia mengatakan, “Aku mendengan Rasulullah bersabda :
“Allah berfirman: Aku membagi bagian shalat antara Aku dan hamba-hambaKu sama rata. Dan bagi hamba-Ku Aku berikan apa yang dia minta. Jika dia mengatakan “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin[1]”, Allah akan mengatakan, “Hambaku memuji-Ku”. Jika dia mengatakan: “Maliki yaumiddin [2]”, Allah akan mengatakan, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku”, jika dia mengatakan: “iyyakana’budu wa iyyaka nastain[3]”, Allah akan mengatakan: “Ini adalah diantara Aku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku Aku berikan apa yang dia minta”. Jika dia mengatakan: “Shiratalladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh dhallin[4]”, Allah mengatakan, “Ini untuk hamba-Ku dan bagi hambaku Aku berikan apa yang dia minta” (diriwayatkan oleh Muslim).
Jika seseorang memperhatikan hal ini, sesungguhnya ada dua bagian. Bagian milik Allah, yaitu bagian awal sampai ucapan “Iyyaka na’budu…”. Kemudian ada bagian bagi hambanya ialah doa yang diucapkannya untuk dirinya. Ketahuilah bahwa Allah lah yang mengajarkan semua ini dan Allah pula yang memerintahkan untuk berdoa dengan bacaan itu dengan mengulang-ulangnya setiap rakaat. Sesungguhnya Allah pula yang menjamin terkabulnya doa ini jika dilakukan dengan ikhlas diiringi kehadiran hati . Maka jelaslah bahwa hal ini luput dari kebanyakan manusia.

Engkau telah diperelok dengan satu perkara yang sekiranya engkau pahami
Maka akan bertambah untukmu keterpeliharaan tanpa kehilangan

Disini aku sebutkan sebagian makna surat yang agung ini dengan harapan shalatmu menjadi teriring dengan hati. Adapun hatimu menjadi mampu memahami apa yang diucapkan lidahmu. Karena apa yang dilisankan lidah tetapi tidak diiringi keykinan hati bukanlah termasuk amal saleh, sebagaimana firman Allah :
Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya” (Al-Fath, 11)
Maka dimulai dengan makna isti’adzah kemudian bismillah, dengan metode yang ringkas.
Adapun makna “a’udzubillahi minasy syaithanir rajim” ialah aku berlindung dan berpegang teguh kepada Allah dan memohon dijauhkan dari keburukan setan ini. Serta dijauhkan dari pengaruh buruk terhadap duniaku dan akhiratku dan menghalangiku dari melakukan perbuatan yang tidak Engkau perintahkan. Atau memotivasiku untuk perbuatan yang tidak Engkau larang. Karena meningkatkan hasrat seorang hamba jika ingin mengerjakan kebaikan berupa shalat, membaca qur’an dan selainnya. Sseungguhnya tidak ada cara bagimu dalam menangkalnya kecuali dengan memohon perlindungan pada Allah sebagaimana firmannya :
Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka” (Al-A’raf, 27)
Jika engkau memohon pada Allah perlindungan dari godaan setan dan berpegang teguh kepada-Nya, maka itu merupakan sebab hadirnya hati. Maka pahamilah kandungan kalimat ini dan jangan merasa cukup hanya menyebutnya secara lisan sebagaimana kebanyakan manusia.
Adapun bismillah maknanya memasukkan perkara ini, baik berupa bacaan maupun doa atau selain itu dengan nama Allah. Bukan atas kemampuanku maupun semata kekuatanku. Bahkan terjadinya perbuatan itu berkat pertolongan Allah semata, melalui keutamaan namanya yang mulia. Seluruh perbuatan ini dibacakan ketika mengawali urusan agama maupun urusan dunia. Jika engkau hadirkan dalam dirimu tatkala masuk pada bacaan dengan memohon pertolongan Allah, terlepas dari segala daya dan kekuatan lain, maka ini merupakan sebab terbesar munculnya hati dan pengusir segala penghalang kebaikan.
Arrahmaanir rahim” merupakan dua kata pecahan dari “rahmah” yang makna salah satunya lebih luas dari lainnya. Seperti kata “allaam” dan “aliim[5]. Ibnu Abbas berkata, “Keduanya merupakan dua kata yang tipis perbedaannya. Salah satunya lebih tipis dari yang lainnya. Yaitu salah satunya bermakna “lebih banyak rahmatnya””.
Surat al-Fatihah terdiri atas tujuh ayat, yaitu tiga setengah untuk Allah dan tiga setengah untuk hamba-Nya.
Bagian awalnya “Alhamdulillahhi rabbil ‘alamin”. Ketahuilah, Al Hamdu ialah “pujian secara lisan atas besarnya kebaikan yang dikehendaki-Nya”. Maka dikecualikan dari hal itu berupa pujian secara perbuatan yang dinamakan “lisanul hal” karena yang demikian merupakan bagian dari perbuatan syukur.
Dan ucapan “atas besarnya kebaikan yang dikehendaki-Nya” maksudnya perbuatan yang dilakukan seseorang atas kehendak-Nya. Adapun besarnya kebaikan yang tidak diperbuat untuk Allah di dalamnya seperti “indah” dan semisalnya, pujian demikian itu dinamakan dengan istilah “madah”, bukan “hamd”[6].
Perbedaan antara “Al-Hamdu - pujian” dan “syukur – terima kasih” ialah :
Al-Hamdu, padanya terkandung makna “madah” dan “tsana”[7] terhadap yang dipuji dengan menyebutkan segala keutamaannya, baik apakah itu perbuatan ihsan kepada pengucap pujian atau pun tidak. Adapun syukur hanya semata terkait rasa terimakasih semata atas satu perbuatan yang dialamatkan rasa syukur itu kepadanya.
Dari sisi ini jelas bahwa al-Hamdu itu lebih umum dari syukur, karena mencakup kebaikan dan juga perbuatan baiknya. Allah terpuji atas nama-namanya yang baik, Asmaul husna serta apa-apa yang Allah ciptakan di awal dan di akhir. Maka Allah berfirman :
Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak” (Al-Israa:111)
Dan juga :
Segala puji bagi Allah Yang menciptakan langit dan bumi” (Al-An’am:1)
Dan juga ayat-ayat semisalnya.
Adapun “syukur, terima kasih” adalah ucapan yang hanya dialamatkan atas jasa yang telah memberikan nikmat saja. Maka dari sisi ini dia lebih khusus daripada al-Hamdu. Tetapi ucapan ini dilakukan melalui hati, tangan, dan lisan. Maka Allah berfirman :
Beramallah, Hai keluarga Daud dengan rasa syukur
Adapun al-Hamdu dilakukan dengan hati dan lisan saja. Maka jika dari sisi jenis, syukur lebih umum dari al-Hamdu dan dari sisi sebab al-Hamdu lebih umum dari syukur.
Alif lam pada ucapan al-Hamdu memberi makna penggabungan, yaitu segenap pujian kepada Allah semata dan tidak untuk selain-Nya. Maka setiap ucapan yang tidak dimaksudkan untuk makhluk seperti penciptaan manusia, penciptaan pendengaran dan mata, langit dan bumi, rizki dan lainnya maka sudah jelas. Adapun untuk pujian kepada makhluk semisal pujian kepada orang-orang saleh, para nabi dan rasul, dan mereka yang berbuat ma’ruf maka secara khusus jika diperluas kepadamu. Semua ini juga bagi Allah dari segi Dia-lah yang jadikan sebab pelaku, dan memberinya apa yang telah dia berbuat itu,   dan mencintai dia dan memberi dia kekuatan dan lainnya dari keagungan Allah yang apa bila gagal salah satunya maka tidaklah dipuji maka semua pujian kepada Allah ini merupakan ganjaran.
Adapun ucapan “lillahi rabbil ‘alamin”[8] maka Allah merupakan nama Tuhan yang maha kuasa. Artinya : Al-ilah[9] ialah al-ma’bud[10]. Sebagaimana firmannya :
وَهُوَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ
Artinya : Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi. (al-an'am, ayat: 3). Yaitu disembah dilangit dan di bumi.
إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً
Artinya : Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (Maryam, ayat: 93)
Adapun rabb artinya adalah raja yang Maha Mengatur.
Sedangkan alamiin adalah kata untuk setiap yang selain Allah. Maka setiap raja, nabi, manusia, jin dan selainnya selain Allah merupakan hamba yang diatur, tunduk dengan segala tindakannya. Miskin, butuh dan sangat tergantung satu sama lain, tidak ada sekutu bagi_nya dalam agama. Yang Maha Kaya dan Tempat Bergantung
Lanjutannya adalah maaliki yaumiddin[11] atau dalam bacaan yang lain maliki yaumiddin[12]. Disebutkan diawal surat, yaitu awal mushaf tentang uluhiyah, rububiyah, dan muluk, sebagaimana disebutkan pula di akhir mushaf :
  مَلِكِ النَّاسِ * قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Artinya : Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. (An-Naas:1-2)
Ini adalah tiga  deskripsi tuhan, disebutkan dalam satu grup di awal qur'an,  dan kemudian disebutkan dalam satu grup di akhir qur'an dari apa yang kamu dengar dari qur'an. Maka hendaknya diperhatikan topik ini. Sesungguhnya Yang Maha Mengetahui menggabungkan antara keduanya itu karena pentingnya seorang hamba memahaminya dan mengetahui perbedaan sifat-sifat-Nya. Setiap sifat Allah memilik makna yang berbeda satu sama lain. Sebagaimana disebut “Muhammad rasulullah”, “penutup para nabi”, “pemimpin anak-anak Adam”; setiap sifat tersebut memiliki makna yang berbeda satu dengan yang lain.
Jika telah paham bahwa makna Allah adalah al ilah, sembahan, maka pahamilah bahwa sembahan itu merupakan sesuatu yang diibadahi. Maka jika engkau berdoa, menyembelih, bernadzar, lakukanlah untuk Allah. Jika engkau berdoa, menyembelih, dan bernadzar kepada makhluk baik itu bagus maupun jelek maka sesungguhnya engkau telah menjadikan dia sembahan.
Maka siapa pun yang menjadikan Syamsan atau Taj (Syamsan dan Taj – contohnya Yusuf – orang yang diyakini sebagai wali pada zaman syeikh penulis. Maka mereka beribadah dengan memanjatkan doa dan sejenisnya kepada sesuatu yang tidak layak kecuali hanya untuk Allah[13]) pada momen hidupnya sebagai Tuhan, serta mengetahui apa yang bani israel sembah yaitu berupa anak lembu, dan ketika mereka sadar mereka pun gempar dan mengatakan Tuhan belum menjelaskan mereka :
Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata: "Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi." (al-A'raf, ayat: 149).

Adapun rabb artinya adalah raja yang Maha Mengatur. Allah adalah raja segala sesuatu dan dia pula lah yang mengurus mereka, demikianlah sebenarnya. Tetapi para penyembah berhala yang dahulu diperangi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun juga menetapkan demikian sebagaimana dalam firman Allah :
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ
Artinya : “Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?"” (Yunus:31)

Maka siapapun yang memohon pertolongan dan agar permintaannya dikabulkan kemudian berdoa kepada makhluk dengan menyandarkan padanya maka ini merupakan peribadatan semisal mengucapkan “dari si Fulan hambamu” atau “hamba Ali[14]” atau “Hamba Nabi”[15] atau “Hamba Zubair[16]” maka telah menetapkan ketuhanan rububiyah mereka. Maka dengan berdoa kepada Ali atau Zubair bersamaan dengan berdoa kepada Allah berarti menetapkan peribadatan kepada mereka. Harapannya agar mereka mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan dengan menamai diri mereka sebagai hamba dari orang yang diibadahi tersebut merupakan bentuk penuhanan makhluk.
Semoga Allah merahmati hambanya yang mengingatkan dirinya serta peduli terhadap perkara ini dengan bertanya pada para ulama’. Kare para ulama merupakan orang-orang yang berada di jalan yang lurus. Sudahkan mereka menafirkan surat tadi dengan benar?
Adapun malik maka penjelasannya adalah maaliki yaumiddin[17] atau dalam bacaan yang lain maliki yaumiddin[18] maknanya menurut kebanyakan ahli tafsir adalah sebagaimana Allah menafsirkannya sendiri :
 يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئاً وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ * ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
Artinya : Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (Al-Infithar:17-19).
Jika memahami ayat ini dan pengkhususan penguasa dari hari pembalasan – dan Allah adalah penguasa segala sesuatu baik hari itu maupun hari lainnya- maka jelas bahwa pengkhususan ini merupakan perkara besar yang menjadikan sebab seorang hamba berhak masuk ke dalam surga serta yang bodoh terhadapnya menjadi sebab masuk neraka. Demikianlah sekiranya seseorang menempuh perjalanan selama lebih 20 tahun ke sana belumlah sampai haknya untuk masuk. Maka bagaimana makna dan keimanan terhadap kejelasan Al-Qur’an, padahal Rasulullah bersabda :

“Wahai Fatimah binti nabi Muhammad, aku tidak dapat menolongmu dari Allah“ (al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah).  Kata ahli burdah :
Tidaklah rasulullah menyempitkan kemuliaanmu denganku
ketika Yang Maha Mulia berhias dengan nama Al-muntaqim
Sesungguhnya aku memiliki jaminan perlindungan
dengan penamaan Muhammad sebagai semulia makhluk yang memiliki jaminan
Sekiranya bukan karena materi yang kuperoleh dengan tanganku lebih utama
Tetapi karena ucapkanlah duhai aku telah tergelincir
Perhatikanlah orang yang menasehati dirinya pada bait diatas, dan orang-orang yang telah dibuatnya takjub, serta mereka yang telah menjadikan dia ulama’. Merekapun menjadikan bacaan ini seperti bacaan Al-Qura’an.
Bagaimana mungkin bersatu dalam hati pembenaran terhadap isi bait diatas dengan dengan pembenaran ayat :
“(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” dan hadits :
“Wahai Fatimah binti nabi Muhammad, aku tidak dapat menolongmu dari Allah“
Demi Allah tidak…..
Kecuali jika tergabung dalam hatinya bahwa Nabi Musa benar dan Fir’aun pun juga benar. Bahwa Nabi Muhammad diatas kebenaran dan Abu Jahal diatas kebenaran. Demi Allah tidak mungkin. Tidak akan pernah sama dan tidak akan terkumpul dua perbedaan dalam persimpangan.
Jika mengetahui ini dan mengetahui kerusakan syair burdah dan juga fitnah keterasingan Islam, serta kebencian dan hal-hal yang menghalalkan darah, harta, dan wanita bukanlah dari sisi penghinaan pada Tuhan dan perang. Bahkan merekalah yang menantang kami dengan kekafiran dan perang ketika :
فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً
Artinya : “Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Al-Jin:18)
dan dalam firman-Nya : “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)” (Al-Israa’:57). Dan dalam firman-Nya : “Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do'a yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka” (Ar-Ra’d:14).
Demikianlah sebagian makna maliki yaumiddin berdasarkan ijma mufassirin dan Allah pun telah menjelaskan sebagaimana dalam ayat surat Al-Infithar diatas.
Ketahuilah – semoga Allah merahmatimu – bahwasannya kebenaran bisa dikenali dengan adanya kebatilan sebagaimana kaidah : wa bi dhiddiha tubayyinul asyaa’ (dengan mengetahui lawannya, maka jelaslah masalahnya)
Perhatikanlah pejelasanku jam demi jam, dari hari ke hari dan bulan ke bulan, tahun demi tahun, semoga engkau akan memahami agama moyang kita Nabi Ibrahim dan Nabi kita. Semoga Allah menyatukan kita semua nanti dan tidak dihalangi dari meminum telaga haudh hari kiamat sebagaimana yang akan dialami mereka yang meninggalkan jalannya. Semoga engkau mampu melewati shiratal mustaqim dan tidak terjatuh sebagaimana mereka yang telah terjatuh di dunia dari jalan yang lurus. Maka biasakanlah membaca al-Fatihah dengan kehadiran hati dan penuh rasa tunduk dan takut.
Adapun Iyyaka na’budu wa iyyaka nastain, maka ibadah merupakan kesempurnaan cinta dan kesempurnaan ketaatan, takut dan tunduk. Dalam ayat ini maf’ul-nya didahulukan yaitu iyyaka dan diulang dua kali unuk menegaskan bahwa hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami bertawakal. Inilah yang disebut kesempurnaan ketaatan.
Adapun agama seluruhnya kembali kepada dua makna yaitu, berlepas dari syirik dan berlepas dari daya dan kekuatan selain Allah. “Hanya kepadamu kami menyembah” maknanya hanya kepadamu kami mengesakan dengan menegaskan perjanjianmu dengan Allah untuk tidak mempersekutukan-Nya dalam perkara ibadah. Tidak untuk nabi dan tidak untuk malaikat. Sebagaimana ucapan-Nya kepada para sahabat :
Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?" (Ali Imran:80)
Perhatikanlah ayat ini dan pahami tentang rububiyah-Nya. Adapun mereka yang menisbatkan diri kepada Taj dan Muhammad bin Syamsan, sekiranya saja sahabat melakukannya dikafirkan saat nabi masih ada, maka bagaimana yang melakukannya terhadap Taj dan Syamsan?
Iyyaka nastain, ini merupakan dua perkara yang salah satunya berupa permohonan pertolongan kepada Allah berupa tawakal dan keterlepasan dari daya dan kekuatan selain-Nya. Selain itu juga permohonan pertolongan kepada Allah sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwasannya hal itu termasuk bagian milik hambanya.
Ihdinash shiratal mustaqim, ini merupakan doa dengan memohon rizki dari Allah dengan permintaan besar ini, yang tidak ada karunia yang lebih besar di dunia dan akhirat dari ini. Sebagaimana Allah mengaruniakan pada Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam waktu Fathu Makkah :
وَيَهْدِيَكَ صِرَاطاً مُّسْتَقِيماً
“dan memberi kamu hidayah kepada jalan yang lurus” (Al-Fath:2)
Kata hidayah pada ayat diatas berarti taufik dan petunjuk. Maka perhatikanlah masalah ini. Dengan demikian, pada hidayah terkandung ilmu sekaligus amal saleh yang istiqamah, sempurna, dan senantiasa konsisten sampai berjumpa dengan Allah nanti.
Ash Shirath, yaitu jalan yang terang lagi lurus tidak bengkok. Maksudnya adalah agama yang Allah turunkan melalui rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu :
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka” (al-Fatihah:7).
Mereka yang dimaksud adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Engkau senantiasa membacanya pada setiap rakaat dengan memohon kepada Allah hidayah agar selalu berada di jalan mereka. Maka wajib diyakini kebenaran jalan ini. Adapun jalan-jalan, ilmu, maupun ibadah lain yang menyelisihinya bukanlah dia jalan yang lurus. Inilah kewajiban pertama pada ayat ini dengan meyakininya dalam hati serta waspada dari tipu daya setan. Yaitu meyakini secara umum tetapi tidak perduli terhadap rinciannya. Sesungguhnya orang-orang yang batal keislamannya meyakini kebenaran risalah nabi dan memahami siapapun yang menyelisihinya batil. Tetapi jika datang hal-hal yang tidak sejalan hawa nafsu mereka, maka sebagaimana dalam ayat :
فَرِيقاً كَذَّبُواْ وَفَرِيقاً يَقْتُلُونَ
 Artinya : (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (Al-Maidah:70)
Adapun ­ghairil maghdub bi ‘alaihim waladh dhaalliin[19], maka yang dimaksud “mereka yang dimurkai” adalah para ulama’ yang tidak mengamalkan ilmu mereka. Sedangkan “mereka yang sesat” adalah orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Yang pertama itu merupakan sifat orang-orang yahudi, sedangkan yang kedua merupakan sifat orang-orang nasrani.
Kebanyakan orang jika melihat tafsir -bahwasannya Yahudi adalah yang dimaksud dengan “mereka yang dimurkai” dan Nasrani sebagai “mereka yang sesat”- menyangka dengan bodohnya bahwa bahwa yang dimaksud sebatas mereka saja. Orang-orang ini yakin bahwa Tuhannya dengan ayat itu mewajibkan mereka berdoa dan berlindung dari jalan mereka yang disifati menyimpang dalam ayat ini. Maha Suci Allah, bagaimana bisa Allah mengajarkan mereka dan membimbing jalan bagi mereka serta mewajibkan mereka senantiasa berdoa dengan ayat ini tetapi mereka tidak merasa diperingatkan dari peringatan Allah. Mereka tidak menyadari bahwa mereka pun termasuk pelaku yang diperingatkan. Inilah persangkaan yang buruk pada Allah, wallahu a’lam. Ini bagian terakhir penjelasan al-Fatihah.
Adapun ucapan amien bukan termasuk dalam al-Fatihah melainkan sebagai permohonan pengabulan doa yang artinya “Ya Allah, kabulkanlah”. Maka wajib mengajarkan orang-orang yang jahil agar mereka tidak menyangka hal ini bagian dari ayat.


Beberapa hal dari al-Fatihah:
Pertama: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” maksudnya ialah tauhid.
Kedua: “Tunjukilah kami jalan yang lurus” artinya senantiasa mengikutinya.
Ketiga: rukun agama adalah hubb, raja’, dan khauf. Cinta pada mulanya dan kedua di pengaharapan dan takut yang ketiga.
Keempat: kerusakan kebanyakan dari kejahilan di ayat pertama yang saya maksud mudah terpengaruh hasad dan mudah terpengaruh untuk cinta dunia.
Kelima: adalah mereka pertama yang diberi nikmat dan mereka pertama yang dimurkai dan tersesat.
Keenam: penjelasan kedermawanan dan pujian untuk mereka yang diberi nikmat.
Ketujuh: penjelasan kekuatan dan kemuliaan pada penyebutan mereka yang dimurkai dan tersesat.
Kedelapan: doa al-Fatihah serta ucapannya untuk tidak mengabulkan doa orang yang lalai.
Kesembilan: penjelasan “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka” berdasarkan dalil ijma’.
Kesepuluh: penjelasan banyaknya orang-orang yang celaka dan kesemuanya sama.
Kesebelas: penjelasan tawakal.
Keduabelas: penjelasan bahaya kemusyrikan.
Ketigabelas: penjelasan bahaya bid’ah.
Keempatbelas: jika setiap orang mempelajari makna surat al-Fatihah maka dia akan paham. Setiap ayat memiliki penjelasan tersendiri. Wallahu a’lam




TAFSIR SURAT AL IKHLASH

Penulis rahimahullah menjelaskan dalam tafsir al-Ikhlash :
Dari Abdullah bin Habib berkata, “Kami keluar ketika hujan malam hari untuk meminta nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memimpin kami shalat, maka kami pun berjumpa.
Dia berkata, “Bicaralah”. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian Aku berkata, “Wahai Rasulullah, Apa yang harus aku ucapkan?”. Dia berkata, Ucapkanlah qul huwallahu ahad dan muawwidzatain[20] setiap pagi dan petangtiga kali, maka cukup untukmu segala sesuatu”. (riwayat Tirmidzi, katanya, “Hadits hasan shahih”).
Ahad adalah yang esa tidak memiliki sekutu. As-Shamad ialah Yang setiap makhluk bergantung kepada-Nya disegala kebutuhan, yanag menjadi kesempurnaan dari sifat yang agung.


Ucapan ahad menafikan pasangan dan yang menyerupainya. Ucapan shamad menetapkan kesempurnaan sifatnya. Ucapan “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” menafikan kebutuhan sahabat dan saudara. Ucapan “dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” menafikan sekutu dalam kesempurnaan-Nya.



TAFSIR AL-FALAQ

Penulis rahimahullah berkata di dalam tafsiran al-falaq:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
 ١. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ 
1. Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
 ٢. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
2. dari kejahatan makhluk-Nya,
 ٣. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
 ٤. وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul ,
 ٥. وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ 
5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".

Makna a’udzu ialah berpegang teguh dan waspada. Kalimat ini mengandung permohonan “perlindungan kepada sesuatu” dan “perlindungan dari sesuatu”.
“Perlindungan kepada sesuatu” ialah kepada Allah saja, Penguasa Subuh yang kepada-Nyalah kita berlindung. Allah mnjelaskan seputar meminta perlindungan kepada makhluk hanya akan manambahkan dosa dan kesalahan, yaitu menjadikannya thagut. Allah berfirman :
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً
Artinya : “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (Al-Jin:6)
Al-Falaq ialah tanda putih pada waktu subuh, yaitu jika berpisah dari waktu malam. Hal ini menunjukkan keesaan dan keagungan Allah
Al-Musta’iz, yang memohon perlindungan, ialah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
dan siapa saja siapa mengikutinya hingga hari kebangkitan.
Adapun “perlindungan dari sesuatu” ada 4 macam :
Pertama : “dari kejahatan makhluk-Nya” mencakup kejahatan di awal dan di akhirat, dalam perkara agama maupun dunia.
Kedua : “dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita”. al-ghasiq artinya: malam. Idza waqab artinya : paling gelap dan masuk ke dalam segalanya, tempat hidup ruh yang jahat.
Ketiga : “dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul”. Ini merupakan sihir yang paling jelek. Naffasat artinya : wanita, yaitu ruh dan jiwa, karena pengaruh sihir hanyalah bagi jiwa yang buruk.
Keempat : “dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. Ini mencakup iblis dan bala tentaranya karena mereka paling hasad kepada anak-anak Adam. “Bila ia dengki” maksudnya karena orang yang dengki jika kedengkian terhadap saudaranya disembunyikan dan hanya berbuat baik tidak akan mencelakakan orang lain.




TAFSIR AN-NAAS

Penulis rahimahullah berkata di dalam tafsiran An-Naas :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  ١. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ   
1. Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia,
  ٢. مَلِكِ النَّاسِ    
2. Raja manusia,
  ٣. إِلَهِ النَّاسِ    
3. Sembahan manusia,
 ٤. مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ    
4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
  ٥. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ     
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
  ٦. مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ     
6. dari jin dan manusia,

Pada ucapan Qul a’uudzu birabbin naas, terkandung tiga hal :
Pertama : permohonan perlindungan, penjelasannya sudah dibahas
Kedua : perlindungan kepada sesuatu
Ketiga : perlindungan dari sesuatu
“Perlindungan kepada sesuatu” hanyalah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Tuhan yang memberi rizki dan mengatur manusia, mendatangkan manfaat bagi mereka dan menjauhkan mafsadatnya.
“Raja manusia” artinya yang mengatur mereka sedangkan mereka adalah hambanya. Dia mengurus mereka sekehendak-Nya, Pemilik segala Kekuatan dan Kekuasaan atas mereka. Maka tidaklah mereka bisa lari kepada raja yang lain jika datang perintah-Nya. Yang menundukkan dan mengangkat sesuatu, menyabung dan memutus satu hubungan, dan memberi serta menahan pemberian.
“Sembahan manusia” artinya satu-satunya sembahan manusia. Dialah yang diseru, tempat berharap dan yang menciptakan. Dia menciptakan manusia, membentuknya, memberikan nikmat, dan melindungi mereka dengan keesaan-Nya. Dia pula yang memaksa, memerintah, dan melarang. Dia pula yang memalingkan mereka sesukanya dan memerintahkan mereka menyembahnya dengan segenap sifat-Nya yang sempurna.
Adapun “perlindungan dari sesuatu” adalah dari perasaan was-was, yaitu bisikan yang mengusik diri.
Adapun “khannas” artinya adalah yang tersembunyi dan terbelakang. Asalnya dari kata “khunuus”, yaitu kembali ke belakang. Keduanya merupakan sifat dari sesuatu yang tersembunyi, yaitu setan. Sesunggunya manusia apabila lalai maka muncul dalam dirinya perasaan was-was yang menjadi pangkal keburukan. Tetapi jika ia berdzikir mohon perlindungan pada Allah maka perasaan tersebut akan hilang.
Imam Qatadah berkata, “Khannas itu seperti ekor anjing, bisa menghilang jika seseorang berdzikir pada Allah”.
Disebut juga pangkal seperti pangkal biji yang tumbuh dan hidup di hati. Jika seseorang berdzikir pada Allah maka akan lenyap. Perbuatan ini terjadi berulang-ulang. Jika mengingat Allah maka hilang, dan jika lalai maka kembali muncul.
“dari jin dan manusia” artinya bahwa was-was itu sumbernya bisa dari jin maupun manusia. Was-was adalah bisikan. Pada manusia bisikan terjadi melalui telinga, tetapi jin tidak melalui itu. Kesamaan was-was dengan wahyu setan sebagaimana dalam ayat :
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) . Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am:112).
Wallahu a’lam.
Segala puji bagi Allah di awal dan di akhir baik nampak maupun tersembunyi dan shalawat bagi Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya.

Selesai diterjemahkan pada maghrib malam kamis,
3 Muharram 1430 H / 31 Desember 2008

Z.H.
Semoga Allah merahmati kedua orang tuanya




[1] Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
[2] Tuhan pemilik hari penghakiman
[3] Kepada-Mu lah kami menyembah dan kepada-Mu lah kami memohon pertolongan
[4] Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat
[5] Keduanya sama-sama bermakna mengetahui, tetapi makna aliim lebih bermakna “sangat mengetahui”
[6] Keduanya dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan pujian, tetapi dari sisi bahasa arab memiliki perbedaan sebagaimana dijelaskan.
[7] Keduanya sama-sama berarti pujian dengan perbedaan khusus dari sisi bahasa arab
[8] Allah, Tuhan semesta alam
[9] sembahan
[10] Yang diibadahi, disembah
[11] مالك يوم الدين
[12] ملك يوم الدين
[13] Lihat Kasyfu Syubhat karangan penulis
[14] Abdu Ali
[15] Abdu Nabi
[16] Abdu Zubair
[17] مالك يوم الدين
[18] ملك يوم الدين
[19] bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat
[20] dua surat a’udzu, yaitu An-Naas dan Al-Falaq

Selengkapnya